Njajal Ngegas Vario CW fi. . .

Hy bro. . .
Vario cw fi sudah lama mengaspal menggantikan generasi sebelumnya yang juga memiliki nama dan bentuk yang bisa dikatakan sama. Motor inilah yang mendobrak dengan headlamp led nya yang dulu saat peluncurannya cukup menyita perhatian.
Oke cukup pengantarnya karena motor ini juga sudah amat akrab di mata masyarakat. Tetapi meski motor ini sudah begitu akrab di masyarakat baru kali ini saya bisa mencobanya, hiks. . .

Awal mula mencoba motor ini juga bermula karena tidak sengaja saya menghilangkan kunci motor sehingga saya harus pulang ke rumah mengambil kunci cadangan, :D jadi cukup bisa merasakan kemampuan motor ini pada beberapa kondisi jalan.
Ekspektasi saya pada vario fi sebenarnya biasa saja mengingat mesinnya adalah mesin beat dan saya sudah sering memakai beat, begitu duduk di joknya memang perkiraan saya tak meleset,terasa seperti beat. Tetapi begitu gas ditarik motor ini seakan berkata “saya vario”,yap perkiraan saya salah begitu motor mulai berjalan. Respon mesin ternyata beda, karakter beat yang sangat enteng untuk akselerasi tak saya temui pada vario fi. Vario terasa lebih kalem tak menghentak bisa dikatakan mirip dengan karakter vario cw gen awal yang juga kalem dan tak menghentak pada akselerasinya.
Ergonomi
Tak jauh beda dengan beat telapak kaki terasa terlalu tinggi dan tak senyaman vario cm gen awal.hem. . . .
Suspensi
Mirip, meski terasa lebih mantap perkiraan awal karena bobot vario lebih berat daripada beat tapi setelah melihat spek ternyata beratnya sama,hem . . .?mungkin suspensinya memang berbeda.
Kenyamanan
Saya bisa mengatakan vario 1 tingkat di atas beat dalam hal kenyamanan, pengendalian stang terasa pas tidak terlalu ringan, suspensi terasa lebih mantap melibas jalanan kriting dan akselerasinya yang tidak menghentak membuat kenyamanan vario bertambah, bagi penyuka kecepatan vario juga tak semelayang beat saat digeber agak kencang, oke lah.
Kesimpulan
Vario cw memiliki bentuk bodi yang masih segaris dengan vario gen awal meski secara pribadi lebih manis gen awal. Lampu led yang disematkan merupakan salah satu fitur yang menarik dan cukup mendobrak.
Namun sayang kini vario cw terlihat terjepit dengan munculnya all new beat series yang menggunakan esp dan new vario 125.
Salam L2 Super

Reviem Android Low End, Smartfren Andromax C3. . . . .

Banyak sekali pilihan ponsel pintar yang ada di pasaran mulai dari budget 400 ribu saja sudah menawarkan sebuah ponsel berbasis android. Salah satunya adalah ponsel yang diusung oleh smartfren dengan Andromax C3 yang telah menawarkan system operasi kitkat. Dibandrol dengan harga 499 ribu bagaimanakah performa ponsel dari smartfren dan haier ini? Silahkan disimak bro . . . .
Oke, saya sebenarnya bingung memulai dari mana karena saya adalah orang yang awam mengenai android dan ini pertama kali saya membuat review ponsel, tapi okelah kita mulai dengan tampilan fisik dari ponsel ini. Dibalut dengan casing plastic yang, ya . . . . . seadanya dan terkesan agak murah ponsel ini memberikan tiga pilihan warna putih, hitam dan abu-abu. Tombol power berada di samping berdampingan dengan tombol vol up dan down, terlihat biasa. Dalam paket pembelian terdapat charger, headset, serta buku petunjuk pemakaian.
Dilengkapi dengan CPU spandragon dual core 1,2 GHz, GPU adreno 302, dan OS Android KitKat dan menggunakan dual mode CDMA dan GSM. Kie apa jane, aku ora mudeng . . . . . . .Mbuh lah itu adalah spek diatas kertas dari Andromax C3 terlihat mumpuni kah? Atau biasakah?mbuh ra mudeng . . . . tapi sebagai pengguna dalam keseharian Andromax C3 ini cukuplah untuk keperluan sehari-hari meski tidak dan jangan harapkan ada unsur “wow” nya yah. . . .  :mrgreen: Hanya spesifikasi dari dual on nya yang cukup mengganggu karena hanya mode CDMA nya saja yang dapat digunakan untuk kuota data.
Kemudian untuk kapasitasnya, mengusung RAM 512 MB, ROM 4GB(dengan system) dan bisa diisi dengan memori eksternal sampai 32 GB, menurut saya ini juga kapasitas yang standar. :D biasa saja. . . . .
Lanjut ke bagian baterai,dibekali dengan Li-ion 1400 mAh rasanya memang terlalu kecil tapi untuk pemakaian dengan paket data menyala bisa bertahan selama seharian dari pagi sampai menjelang sore tanpa mengisi ulang batereinya.

image

Foto di atas merupakan hasil tangkapan dari kamera Andromax C3 yang digunakan pada keadaan yang minim cahaya. Dipersenjatai dengan kamera 3 MP (interpolated) hasil tersebut cukup apik jika disandingkan dengan hasil dari jepretan kamera Lenovo A390 yang saya pakai yang dipersenjatai dengan 8 MP.

image

Foto di luar ruangan
Kesimpulan
Andromax C3 merupakan Android dengan bandrol yang cukup terjangkau, bahkan salah satu dari sekian banyak ponsel android yang sangat terjangkau. Awalnya cukup ragu saat akan memingangnya tetapi ternyata ponsel ini cukup lumayan untuk hanya digunakan sehari-hari.  Meski tak ada unsur dari ponsel ini yang akan membuat pengguananya berkata “wow” dan bahkan tampilan interfacenya saja sangat biasa tapi ponsel ini layak dipertimbangkan dengan bandrolnya yang cukup kompetetif.
Sekian bro reviewnya siapa tahu bisa jadi bahan pertimbangan.

Semoga Bisa Jalan Lagi, Jilid 2. . .

Tak terasa blog ini sudah berumur 3 tahun lebih  dan saya baru menyelesaikan 100 artikel, :D karena menulis ternyata memang bukan pekerjaan mudah dan menulispun harus memiliki gairah terlebih lagi ini adalah blog pribadi yang lebih menekankan pada sharing pengalaman pribadi dan hal yang saya alami :mrgreen:
Oke karena ini adalah artikel yang saya buat untuk mencoba kembali menulis pada catatan pribadi di blog yang sekaligus tulisan yang bisa dibaca oleh semua orang maka saya akan mulai dari hal yang ringan (memang bisa bahas hal berat???) wkwkwk . . . .  :D
Beberapa hari ini gairah saya pada motor mulai tumbuh lagi dan disertai dengan gairah menulis saya juga kebetulan tumbuh, ya setelah beberapa bulan saya memang tidak terlalu bergairah pada motor terlebih setelah saya melepas si Semut. Si Semut merupakan motor tunggangan saya yang sekaligus juga tumpahan keinginan saya tentang otak-atik motor. Mulai dari hal sepele semisal pasang stiker sampai merubah bentuk stang si Semut saya lakukan.  Motor saya itu merupakan kuda beban sekaligus “sabak” tempat saya membuat coretan yang saya mau dan kemudian bisa saya hapus lagi.
Tetapi setelah saya melepas si Semut untuk di jual saya juga kehilangan gairah pada motor, entah berlebihan atau wajar tapi motor yang saya pakai setelah Semut saya lepas tak lebih hanya sebagai alat untuk berpindah, tak ada rasa biasa saja. Sayapun kehilangan tempat untuk membuat coretan yang saya mau. 
Setelah sekian waktu merasa kehilangan gairah, ternyata bukan motor baru yang membuat saya bergairah lagi. Terbayang menganti kaki-kaki dengan jari-jari tapak lebar, spion bulat dengan kaca cembung, jok empuk dengan nuansa klasik, dan masih banyak lagi yang ingin saya lakukan pada si tua L2 Super. Ya motor tua yang lagilagi teronggok di pojok ruangan yang bisa membuat saya lama memandangi motor dan mengawasi setiap detailnya.
Hal pertama yang saya lakukan adalah membuatnya bisa berjalan lagi . . . . normal tanpa kendala.  Tak peduli dengan power apalagi torsi, tak peduli model futuristik yang tajam tak peduli teknologi canggih laur biasa karena  yang saya ingin hanya berjalan pelan menikmati sisa-sisa tenaga muda si tua L2 super di sore hari, sederhana saja
.

image

Keinginan saya sejak dulu adalah mengembalikan rupanya agar kembali enak untuk dipandang dan memperbaiki mesinnya agar nyaman untuk dikendarai. Meski lagi-lagi terkendala oleh masalah dana :mrgreen: dan waktu tapi itu bukan suatu masalah karena yang terpenting gairah untuk itu sudah ada.
Sama seperti judul artikel ke 100 saya, semoga bisa jalan lagi. . . . .

Sebuah Catatan Sederhana

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 978 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: